Puspa Nuswantara 2026 Hadirkan Peluncuran Buku Batik Tiga Negeri, Dokumentasikan Mahakarya Wastra Indonesia untuk Generasi Mendatang

0
IMG-20260711-WA0047

EXPOINDONESIA.COM, Jakarta, 11 Juli 2026 – Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan kembali menghadirkan momentum penting bagi pelestarian budaya Indonesia melalui peluncuran buku Batik Tiga Negeri: Mahakarya Warna dan Makna, karya Dr. Komarudin Kudiya, S.IP., M.Ds. dan Afif Syakur, S.S. Peluncuran buku ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Pameran dan Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara yang diselenggarakan oleh Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI).

Acara peluncuran dihadiri oleh lebih dari 75 peserta, yang terdiri atas pecinta batik, pemerhati budaya, kolektor batik, akademisi, peneliti, kurator, perajin, serta pengusaha batik dari berbagai daerah di Indonesia yang turut berpartisipasi sebagai exhibitor dalam pameran. Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan besarnya kepedulian masyarakat terhadap upaya mendokumentasikan sekaligus melestarikan salah satu mahakarya batik paling bernilai dalam sejarah perkembangan batik Indonesia.

Buku Batik Tiga Negeri: Mahakarya Warna dan Makna diterbitkan sebagai bentuk ikhtiar untuk menyelamatkan pengetahuan, sejarah, filosofi, serta nilai budaya Batik Tiga Negeri yang selama ini tersebar dalam berbagai sumber, koleksi pribadi, tradisi lisan, dan pengalaman para maestro batik. Melalui buku ini, kedua penulis berupaya menghadirkan dokumentasi yang utuh dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik sehingga dapat menjadi referensi bagi masyarakat luas, dunia pendidikan, komunitas budaya, hingga para pelaku industri batik.

Batik Tiga Negeri merupakan salah satu pencapaian tertinggi dalam tradisi membatik Nusantara. Keistimewaannya terletak pada proses produksi yang melibatkan beberapa pusat batik terbaik di Pulau Jawa melalui tahapan pewarnaan bertingkat yang menghasilkan perpaduan warna merah khas Lasem, biru indigo Pekalongan, serta soga dari Solo dan Yogyakarta. Dalam perkembangannya, tradisi tersebut juga memberikan inspirasi bagi lahirnya variasi Batik Tiga Negeri di Batang dan Cirebon yang memperkaya khazanah batik Indonesia. Keahlian teknis, ketelitian, dan waktu pengerjaan yang panjang menjadikan Batik Tiga Negeri sebagai salah satu batik tulis dengan nilai artistik dan historis tertinggi.

Isi buku ini disusun secara komprehensif dalam sepuluh bab yang mengulas perjalanan Batik Tiga Negeri dari berbagai sudut pandang. Pembaca diajak menelusuri sejarah kemunculannya sejak akhir abad ke-19, perkembangan rumah-rumah batik legendaris seperti Tjoa Giok Tjiam, filosofi tiga warna utama, karakter visual Batik Tiga Negeri dari Solo, Lasem, Pekalongan, Yogyakarta, Batang, dan Cirebon, proses pewarnaan tradisional menggunakan bahan alami, hingga pembahasan mengenai makna sosial, spiritual, estetika, branding, ekonomi kreatif, dan strategi pelestarian pada era modern. Buku ini juga memperlihatkan bagaimana Batik Tiga Negeri menjadi simbol akulturasi budaya yang memadukan pengaruh Jawa, Tionghoa, Eropa, Sunda, dan budaya pesisir dalam satu karya wastra yang utuh.

Menurut para penulis, tujuan utama penerbitan buku ini bukan hanya mendokumentasikan sejarah Batik Tiga Negeri, tetapi juga membangun kesadaran bahwa setiap helai kain batik menyimpan pengetahuan, filosofi, teknologi tradisional, dan nilai kemanusiaan yang diwariskan lintas generasi. Dokumentasi ilmiah menjadi sangat penting agar kekayaan intelektual dan budaya tersebut tidak hilang bersama berkurangnya jumlah maestro dan pembatik senior.

Peluncuran buku ini sekaligus menjadi penghormatan kepada para pembatik, keluarga perintis, kolektor, peneliti, dan seluruh pelaku batik yang selama lebih dari satu abad telah menjaga keberlangsungan tradisi Batik Tiga Negeri. APPBI berharap buku ini mampu menjadi jembatan antara dunia akademik, pelaku industri, dan masyarakat luas dalam memahami posisi Batik Tiga Negeri sebagai salah satu mahakarya batik Indonesia yang memiliki nilai sejarah, estetika, dan spiritualitas yang sangat tinggi.

Melalui peluncuran buku Batik Tiga Negeri: Mahakarya Warna dan Makna, APPBI menegaskan komitmennya bahwa pelestarian batik tidak cukup hanya melalui produksi dan perdagangan, tetapi juga melalui dokumentasi ilmiah, penelitian, pendidikan, dan diseminasi pengetahuan. Diharapkan buku ini dapat menjadi referensi penting bagi perguruan tinggi, museum, komunitas budaya, kolektor, kurator, dan generasi muda dalam memahami Batik Tiga Negeri sebagai warisan budaya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga kaya akan nilai sejarah, filosofi, teknologi tradisional, dan semangat persatuan dalam keberagaman.

Peluncuran buku ini menjadi pengingat bahwa Batik Tiga Negeri bukan sekadar karya tekstil bernilai tinggi, melainkan sebuah perjalanan panjang peradaban Indonesia yang memperlihatkan bagaimana kreativitas, kerja sama lintas budaya, dan kearifan lokal mampu melahirkan mahakarya wastra yang hingga kini tetap dikagumi, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *