Prof. Wirawan Sumbodo Dorong Inovasi Transportasi Haji dengan Kereta Listrik Bawah Tanah
EXPOINDONESIA.COM, Mekah, Arab Saudi — Prof. Dr. Wirawan Sumbodo, M.T., Wakil Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Alumni Universitas Negeri Semarang (IKA UNNES), Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang (UNNES), sekaligus anggota HIMPUNI (Himpunan Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Negeri Indonesia), menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi atas keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi yang dinilai semakin baik, modern, dan mampu melayani jutaan jamaah dari seluruh dunia.
Prof. Wirawan yang tahun ini menunaikan ibadah haji khusus bersama Sahid Tour 2026 menyampaikan pandangannya melalui pesan WhatsApp kepada awak media online KOMPASINDO dari Kota Mekah, Arab Saudi.
Dalam pesannya, Prof. Wirawan menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang dipimpin oleh Yang Mulia Penjaga Dua Masjid Suci, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, atas berbagai kemajuan yang telah dilakukan dalam penyelenggaraan ibadah haji.
“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi yang terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada para tamu Allah dari seluruh dunia. Berbagai kemajuan yang dilakukan sangat dirasakan manfaatnya oleh jamaah haji internasional,” ujarnya.
Menurut Prof. Wirawan, salah satu tantangan terbesar yang masih dihadapi dalam penyelenggaraan haji adalah mobilitas jamaah pada fase puncak haji di kawasan Armuzna, yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Armuzna merupakan singkatan dari tiga lokasi utama dalam pelaksanaan puncak ibadah haji. Arafah menjadi tempat pelaksanaan wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah yang merupakan rukun terpenting dalam ibadah haji. Waktu afdol pelaksanaan wukuf dimulai sejak masuk waktu Zuhur hingga terbenam matahari atau sekitar enam hingga tujuh jam.
Setelah itu jamaah bergerak menuju Muzdalifah untuk melaksanakan mabit atau bermalam. Waktu afdol mabit berlangsung sejak Magrib hingga menjelang Subuh tanggal 10 Dzulhijjah atau sekitar sepuluh hingga sebelas jam.
Selanjutnya jamaah menuju Mina untuk melaksanakan lempar Jumrah Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah serta mabit dan melontar jumrah pada hari-hari Tasyrik tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
“Armuzna merupakan puncak perjalanan ibadah haji. Dalam waktu yang relatif singkat, jutaan jamaah harus berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya untuk menunaikan rangkaian ibadah yang telah ditetapkan syariat. Karena itu sistem transportasi menjadi faktor yang sangat penting,” jelasnya.
Berdasarkan data resmi General Authority for Statistics (GASTAT) Arab Saudi, jumlah jamaah haji tahun 1447 Hijriah atau 2026 mencapai 1.707.301 orang. Sebanyak 1.546.655 jamaah berasal dari luar negeri yang mewakili 165 negara atau sekitar 90,6 persen dari total jamaah, sedangkan 160.646 jamaah merupakan jamaah domestik Arab Saudi.
Untuk melayani jumlah jamaah tersebut, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengerahkan ratusan ribu petugas dan relawan yang bertugas memastikan seluruh rangkaian ibadah berlangsung aman dan tertib.
Prof. Wirawan menilai bahwa sistem transportasi berbasis bus yang saat ini digunakan telah memberikan kontribusi besar terhadap kelancaran pelaksanaan ibadah haji. Namun, dengan jumlah jamaah yang telah mencapai lebih dari 1,7 juta orang, diperlukan pemikiran jangka panjang guna menghadapi peningkatan jumlah jamaah pada masa mendatang.
“Saat ini perpindahan jamaah di kawasan Armuzna masih didominasi menggunakan bus. Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah menyediakan armada yang sangat besar, namun dengan jumlah jamaah yang mencapai jutaan orang, kepadatan lalu lintas pada waktu-waktu tertentu tetap menjadi tantangan yang harus terus dicari solusinya,” katanya.
Sebagai akademisi di bidang teknik, Prof. Wirawan mengusulkan pembangunan sistem kereta listrik bawah tanah yang menghubungkan kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan haji internasional.
Menurutnya, transportasi bawah tanah akan menjadi solusi yang lebih efektif karena tidak menambah kepadatan kendaraan di permukaan serta mampu mengangkut lebih banyak jamaah dalam waktu yang lebih singkat.
“Saya mengusulkan agar Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mempertimbangkan pembangunan kereta listrik bawah tanah yang menghubungkan Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Jalur bawah tanah akan menjadi solusi modern yang dapat meningkatkan kenyamanan, keamanan, dan efisiensi perpindahan jamaah selama fase Armuzna,” ujarnya.
Ia mengusulkan pembangunan tiga stasiun utama, yakni Stasiun Arafah, Stasiun Muzdalifah, dan Stasiun Mina. Sistem tersebut dapat mengadopsi teknologi metro modern yang saat ini telah diterapkan di berbagai negara maju seperti Jerman dan Prancis.
Prof. Wirawan menjelaskan bahwa satu bus umumnya hanya mampu mengangkut sekitar 50 penumpang. Sementara itu, satu rangkaian kereta listrik berkapasitas besar dapat mengangkut sekitar 600 penumpang dalam satu perjalanan.
“Jika kereta dapat beroperasi dengan interval beberapa menit sekali, maka kapasitas angkut jamaah akan meningkat secara signifikan. Selain mengurangi kepadatan lalu lintas, sistem ini juga dapat memberikan kenyamanan yang lebih baik bagi para jamaah haji dari seluruh dunia,” katanya.
Ia mencontohkan keberhasilan Kereta Cepat Haramain yang saat ini telah menghubungkan Mekah dan Madinah dengan jarak sekitar 450 kilometer. Kereta cepat tersebut mampu melayani puluhan ribu penumpang setiap hari dan menjadi salah satu simbol keberhasilan modernisasi transportasi di Arab Saudi.
“Keberhasilan Haramain High Speed Railway menunjukkan bahwa Arab Saudi memiliki kemampuan teknologi, sumber daya, dan pengalaman yang sangat baik dalam membangun sistem transportasi modern berskala besar. Pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan transportasi di kawasan Armuzna,” ungkapnya.
Selain meningkatkan pelayanan kepada jamaah, Prof. Wirawan menilai pembangunan jaringan transportasi modern di kawasan Armuzna juga dapat mendorong pengembangan fasilitas publik, pusat perdagangan, layanan akomodasi, dan kawasan ekonomi baru yang mendukung sektor wisata religi di Arab Saudi.
Menurutnya, semakin baik sarana transportasi yang tersedia, maka semakin besar pula kapasitas pelayanan jamaah yang dapat diberikan pada masa mendatang.
“Saya yakin Pemerintah Kerajaan Arab Saudi senantiasa memikirkan berbagai inovasi untuk meningkatkan pelayanan kepada para tamu Allah. Usulan ini merupakan masukan konstruktif agar pelayanan haji internasional semakin nyaman, aman, modern, dan mampu melayani lebih banyak umat Islam dari seluruh dunia,” tuturnya.
Prof. Wirawan berharap peningkatan kapasitas transportasi di kawasan Armuzna dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk membantu mengurangi masa tunggu haji yang masih cukup panjang di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menutup pesannya, Prof. Wirawan menyampaikan doa dan penghargaan kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi beserta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan ibadah haji.
“Hafizhahullah al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Su’udiyyah wa qiyadataha. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga Kerajaan Arab Saudi dan para pemimpinnya serta memberikan kemudahan dalam melayani para tamu Allah dari seluruh dunia. Semoga kualitas penyelenggaraan ibadah haji terus meningkat dari tahun ke tahun. Aamiin Ya Rabbal Alamin,” pungkas Prof. Dr. Wirawan Sumbodo.
